Sebagai pengajar, saya mencoba menuntun mereka untuk melihat bahwa kedua ideologi itu sama-sama menyimpan jebakan.
Tentu saya bukan pembela Liberlias-Kapitalis. Kapitalis memberi ruang kompetisi. Yang kuat akan selalu menyingkirkan yang lemah. Sementara sosialisme ingin meniadakan kelas, namun pada akhirnya tetap saja melahirkan penguasa baru dengan wajah yang berbeda.
Indonesia memang berlandaskan Pancasila. Realitanya, sila-sila itu seringkali hanya berhenti ditulisan dan hapalan. Tidak sampai pada laku dalam kehidupan. Ketuhanan Yang Maha Esa, misalnya, tampak diagungkan, tetapi pada praktiknya banyak tuhan-tuhan lain yang disembah: jabatan, uang, popularitas.
Kemanusiaan yang adil dan beradab seolah menjadi slogan kosong ketika kita melihat betapa seringnya keadilan hanya berpihak pada mereka yang punya kuasa. Persatuan Indonesia pun retak oleh kepentingan golongan, apalagi sila keempat dan kelima—kerakyatan serta keadilan sosial—seringkali hanya menjadi jargon politik yang hilang bersama berakhirnya masa kampanye.
Di tengah situasi seperti itu, saya berada pada posisi kelas menengah. Kelas yang sering disebut tulang punggung negara, namun justru kerap menanggung beban paling berat. Bagi kelas bawah, ada beragam bantuan sosial dan jaminan kesehatan. Bagi kelas atas, mereka tak perlu memikirkan itu semua—uang mereka tidak berseri, seolah tidak ada habisnya. Pernah suatu kali saya menyaksikan petinggi saya waktu itu, dengan mudah mentransfer satu miliar rupiah seolah hanya memindahkan recehan. Sedangkan bagi saya, mentransfer seratus ribu kepada seorang kawan saja masih disertai doa semoga uang itu kembali, meski dalam hati ada rasa pasrah kalau hilang selamanya. haha
Kelas menengah, dengan segala keterbatasannya, seringkali terjepit. Bayar iuran kesehatan saja bisa menunggak beberapa bulan. Pendidikan anak terasa semakin mahal. Hukum berjalan timpang: yang kecil digilas aturan, yang besar bisa membeli pasal. Budaya dan agama kadang justru menambah beban, ketika keduanya dipelintir menjadi alat legitimasi, bukan lagi sumber ketenteraman. Menjadi kelas menengah adalah menjadi saksi betapa negara ini tidak sungguh-sungguh hadir untuk semua lapisan.
Dari bacaan saya tentang sosialisme, termasuk tulisan para pemikir Indonesia seperti Tan Malaka, ada sebuah cita-cita tentang negara tanpa kelas. Sebuah dunia di mana tidak ada jurang yang memisahkan kaya dan miskin. Secara ideal, gagasan itu indah. Saya pernah menjadi pengagum ini.
saya menemukan ada titik persinggungan yang menarik antara sosialisme dengan ajaran Islam. Keduanya sama-sama menekankan pentingnya keadilan, kesetaraan, dan keberpihakan. Kepada Mustadhafiin tentu saja.
Islam mengenal konsep zakat, infak, sedekah, yang secara langsung mengalirkan harta dari yang punya kepada yang tidak punya. Bahkan dalam sejarah, ada masa ketika baitul mal mampu menjamin kebutuhan masyarakat, hingga nyaris tidak ada orang yang berhak menerima zakat karena semua telah tercukupi. Semangat itu mirip dengan yang dicita-citakan para pemikir sosialis. Meski tentu saja ruhnya berbeda.
Di sinilah saya kemudian teringat pada pemikiran Cak Nun. Ia sering menyebut tentang jalan alternatif yang tidak harus ikut-ikutan pada kapitalisme ataupun sosialisme. Sebuah jalan yang ia sebut sebagai “ekonomi yang diberkahi Tuhan.”
Bukan sekadar menghitung untung rugi, bukan pula semata membagi rata tanpa jiwa. Ekonomi ini berpijak pada keberkahan—tentang bagaimana rezeki yang kita dapat tidak hanya halal secara formal, tetapi juga membawa kebaikan bagi orang lain. Bahwa harta tidak menimbulkan kesombongan, melainkan menumbuhkan ke-solidaritas-an.
Mungkin inilah opsi yang sering luput dari peta ideologi dunia: sebuah ekonomi yang mengalir, cukup, dan menenangkan, karena Tuhan ridha di dalamnya.
Ekonomi yang diberkahi Tuhan, bagi saya, bukanlah konsep yang bisa disamakan dengan teori-teori ekonomi modern yang rumit. Ia lebih menyerupai laku hidup—cara kita memandang rezeki, memelihara harta, dan menempatkan manusia lain dalam lingkaran kehidupan kita.
Saya jadi teringat obrolan dengan Bang Andi, seorang akuntan. Senior saya saat mbambung. Katanya, “Ekonomi Maiyah (secara makro), tidak dapat dilihat dari pandangan jagad cilik. Singkat kata, bagaimana kita bisa tahu orang lain sudah menghadirkan dan melibatkan Tuhan dalam setiap aktivitasnya? Tapi dalam pandangan jagad gedhe, kita bisa saling berprasangka bahwa kita saling menghadirkan dan melibatkan Tuhan dalam setiap aktivitas. Bertemu dengan orang yang sama-sama menghadirkan dan melibatkan Tuhan dalam setiap aktivitas, dan bertemu peristiwa-kegiatan-tujuan yang saling menghadirkan dan melibatkan Tuhan dalam setiap aktivitas.”
No comments:
Post a Comment