Semalam, saya ikut sebuah acara yang tidak akan mudah saya lupakan. Dentuman bass, irama reggae yang menghentak pelan, dan suara shalawat yang menggema dari panggung. Di sana, berdiri seorang musisi dengan jalan sunyi dakwahnya: Hamed Uye.
Di sosial media ada yang mengatakan, Hamed Uye adalah santri Tebu Ireng, Jombang. Dan saya bisa merasakan betul aura ke-santrian-nya, meski ia berambut gondrong gimbal, dan berdiri bukan di mimbar, namun di atas panggung musik reggae. Konon, syafaat Kanjeng Nabi itu tidak eksklusif, bukan hanya milik sekelompok orang tertentu. Dan semalam, Hamed Uye membuktikannya. Ia mengajak semua orang untuk bersholawat, apapun latar belakangnya. Yang suka habib, monggo. Yang dekat dengan kiai, silakan. Musiknya tidak memecah belah. Reggae versi Hamed Uye justru terasa multikulturalis—milik semua orang.
Lagu pertama yang dinyanyikan malam itu adalah Indonesia Tanah Air Beta. Bagi saya, ini tanda cinta tanah air yang tulus pada Indonesia. Hidup yang berat, harga kebutuhan yang terus menggila, dan dengan segala permasalah rakyat Indonesia: Pinjol, Judol dan lain-lain. Namun Hamed Uye mengajak terus menerus cinta Indonesia. Lagu-lagu berikutnya membuat nostalgia saya bangkit. Ada shalawat pesantren Langitan, ada Yarobbi Antal Hadi—shalawat yang akrab di telinga anak-anak 80–90an, dan bagi saya pribadi, jadi teman masa kecil waktu SD.
Dentuman reggae itu, atau SKA yang lebih ritmis, bagi saya bukan sekadar musik. Ia adalah musik hati. Pernah menemani saya menyelesaikan skripsi, tesis, dan malam-malam panjang penuh gelisah. Semalam, dentuman itu kembali hadir, dan Hamed Uye membungkusnya dengan shalawat.
Karena kebaikan hati seorang teman, sebelum naik panggung saya sempat bertemu Hamed Uye di tempat istirahatnya. Dalam hati, saya ingin banyak bicara, menyebut bahwa saya salah satu follower setianya di media sosial, ingin berbasa-basi panjang. Ingin mengutarakan di platform Spotify perlu update lagu-lagu yang baru. Tapi yang keluar dari mulut saya malam itu, hanya satu kalimat sederhana: “Sukses dan sehat selalu, Cak.”
Grogi, iya. Tapi lebih dari itu, ada rasa haru. Karena di hadapan saya bukan sekadar musisi reggae. Melainkan seseorang yang telah mengantarkan saya bernostalgia dengan shalawat-shalawat masa kecil. Shalawat-shalawat yang dulu diputar ayah, melalui tape recorder dengan kaset pita.
Saya percaya, suatu saat Hamed Uye akan menjadi besar. Jalan dakwahnya insyaAllah akan diridhai dan dicintai Kanjeng Nabi. Sebab ia mengajak bukan dengan marah, bukan dengan sekat, melainkan dengan nada—yang mampu menyatukan semua hati yang semuanya rindu Kanjeng Nabi.
............................................................................................................................................................Semalam, adalah anniversary pernikahan saya dan istri. Kami berdua, menonton Hamed Uye, dengan shalawat-shalawatnya. Semacam doa. Kabulkanlah doa kami, jaga kami, lindungi kami.
Oh Allah, sampaikanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami, Muhammad dan keluarga.
No comments:
Post a Comment