#DearDifa
#DearDifana
#DearNadifa
Hari ini adalah hari ketiga saya mendekam di rumah sakit. Mungkin ini kali pertama saya harus bernostalgia ditusuk-tusuk jarum suntik. Pertama kenal jarum suntik dan infus adalah saat kena gigit nyamuk DB, kira-kira umur saya waktu itu 5 tahun. Sudah lupa rasanya
.
.
Orang kecil seperti kita dalam memandang peristiwa, tentu saja harus lihat dari sudut pandang hikam. Kalau tidak, tentu kita akan banyak sambat selebihnya misuwur. Pun dengan apa yang saya alami beberapa hari ini. Meskipun saya yang sakit, saya yang tidak tega adalah kepada ibumu.
.
.
Meskipun banyak sanak, sodara, teman datang menangung rasa itu. Ibumu tetap saja memikul berat beban fisik dan psikologis. Itulah kenapa, Nak. Ketika saya sehat. Saya tidak segan-segan untuk mencuci pakaian keluarga kita, mencuci piring dan gelas kotor yang menumpuk. Sekedar mengurangi beban fisik yg ditanggung ibumu. "Apa bapak tidak malu, melakukan pekerjaan perempuan?" kelak mungkin ketika kau dewasa bertanya seperti itu. Tidak Nak, bagi saya pekerjaan sebenarnya tidak berjenis kelamin. Kita saja yang sering mengkotak-kotakkan.
.
.
Semalam ibumu berkirim kabar. Kamu ingin jalan-jalan ketempat bapak (RS). Tentu saja itu tidak akan dilakukan, karena hari sudah malam. Dan kau masih kecil, rentan tertular penyakit. Saya akan segera sembuh, nak. Setelah sembuh, akan bergaya hidup sehat. Saya akan menyaksikanmu bergembira, tumbuh kembang menelusuri lorong-lorong liku dunia.
.
.
Kisah rumah sakit itu berawal ketika saya pulang dari pekerjaan di luar kota. Sebenarnya saya enggan menuduh siapa dan mengapa bisa terjadi. Wong ini sudah sunatullah. Tapi untukmu akan aku ceritakan, siapa tahu kamu bisa mengambil hikmahnya.
.
.
Setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan saya dalam tekanan pekerjaan. Tibalah saatnya, kantor mengundang kami untk melakukan sesuatu. Semacam piknik. Saya sudah komunikasi dengan ibumu. Pada acara itu saya akan ijin saja. Karena tempat yang cukup jauh, ditambah cuaca yang ekstrim. Di sana kebalikannya cuaca dari kota kita. Selain itu, hari-hari tugas saya hampir tidak pernah ijin. Alasan yang peling melankolis: sejujurnya saya tidak tega meninggalkan kalian hanya untuk sekedar pesta.
.
.
Namun ibumu mendesak saya, untuk berangkat saja, karena selain sayang [eman-eman], ini adalah kesempatan liburan gratis. Percayalah, sampai di sini, saya sedang tidak menyudutkan ibumu. Akhirnya saya berangkat.
.
.
Singkat cerita, di sana saya makan kambing guling. Sebuah makanan yang asing bagi perut saya. Orang proletariat seperti kita memang tidak cocok dengan makanan seperti itu. Kita sudah terlalu akrab dengan tahu tempe. Tapi jika tahu dan tempe terus menerus, asam urat mengintai. Memang terlalu sulit kita hidup di Indonesia. Tapi ada seribu cara untuk bergembira.
.
.
Sepulang dari kegiatan itulah. Demam tidak kunjung turun, vertigo semakin menjadi. Ahad pagi, ketika seluruh dokter sedang berolahraga. Tidak ada dokter yang buka. Instalasi Gawat Darurat adalah tujuan utama.
.
.
Betapa sakit itu sama sekali tidak enak. Sehat itu anugrah luar biasa.
No comments:
Post a Comment