#DearDifaa
Jika ditanya kepada saya, apa yang paling menyenangkan di dunia ini? Akan aku jawab. Menikmati, menemani tiap fase tumbuh kembangmu, adalah hal yang paling membahagiakan. Sangat menyenangkan.
.
.
Barangkali, saya adalah lelaki pertama yang mencintaimu di dunia ini. Setelah nanti, suatu saat ada lelaki lain yang akan merasa paling mencintaimu ketimbang saya. Saya masih ingat, bagaimana dulu kamu belajar merangkak, berlatih berjalan. Kemudian Ibumu membelikan sandal dan sepatu yang berbunyi "cit" ketika diinjak. Jika melihatmu hari ini, yang sudah besar, mampu bercerita, merajuk, mengambek, dan tertawa adalah suatu keajaiban bagi saya. Karena saya melihatmu dulu, menggendongmu yang masih bayi berwarna merah baru lahir. Dan sekarang tiba-tiba sudah besar. Luar biasa.
.
.
Difa, bagi saya, parenting adalah pekerjaan yang paling luas cakupannya di dunia. dan besar pula peluang gagalnya. Maka dari itu, saya dan Ibumu tidak benar-benar mengadopsi sepenuhnya pelajaran parenting yang kami dapatkan dari orang tua kami. Ada yang kami terapkan, ada juga yang kami buang, karena tidak sesuai kondisi jamanmu. Bukan berarti kami sok-sokan menganggap orang tua kami telah gagal dalam mendidik, justru kami sangat bersyukur bisa mendapatkan pendidikan oleh nenek dan kekek dari Ibu dan Bapakmu.
.
.
Barangkali saya terlalu memanjakanmu. Memperbolehkanmu menonton Upin Ipin selepas shalat magrib. Juga memberimu menonton Youtube Kids saat kamu merengek, kemudian Ibumu agak keras memberi batasan waktu. Sejujurnya, saya sedang menerapkan apa yang Imam Ali bin Abi Thalib dawuhkan: perlakukan anakmu 0-7 tahun seperti raja.
.
.
Ketahuilah, Nak. Selagi itu tidak membahayakan keselamatanmu. Tidak mengganggu kesehatanmu. Tidak berbenturan dengan norma. Dan semua itu membahagiakanmu, saya akan mengatakan "iya" untukmu. Akan tetapi sambung Imam Ali: Perlakukan anakmu 7-20 tahun seperti tawanan perang.
.
.
Mungkin saya akan keras di usiamu pada fase itu. Jika saya tidak tega, mungkin Ibumu lebih keras dari saya. Imam Ali melanjutkan: Perlakukan anakmu di atas 20 tahun seperti teman. Semoga, jika umur saya panjang, saya akan menjadi teman diskusimu yang insya Allah asik.
.
.
Selain parenting, ada yang lebih penting. Yaitu belajar bersamamu. Belajar menjadi orang tua, belajar menjadi orang baik. Bapakmu yang malas ke mushola, tiba-tiba harus shalat berjamaah di sana. Itu semua karena rengekanmu. Saya kadang merasa terenyuh, di usiamu yang belum genap 3 tahun mampu menyanyikan Asma Alhusna, meskipun belum lengkap 99 nama. Juga kadang merasa bangga, saat kamu melafalkan bismillah dan melalarkan doa-doa. Juga kamu menyanyi-nyanyi lagu bahasa Inggris yang saya tidak mengerti.
.
.
Meskipun saya harus sadar, kebanggaan itu sebenarnya milik Allah, kamu tidak perlu berlomba-lomba dengan sesama manusia. Kamu tidak perlu mengalahkan siapa-siapa untuk terlihat hebat luar biasa.
.
.
Ada hal lucu yang perlu dicatat agar selalu ingat. Saya sering mengapresiasimu karena tindakanmu, dengan mengacungkan jempol dan berkata: "mantap jiwa". Suatu sore yang hujan, kamu berkata pada Ibumu, "Mama, mantap jiwane yaya". "Mama, mantap jiwanya sakit". Sambil menunjukan jempolmu yang lecet terkena mainan. Ahhh Nadifaa...
No comments:
Post a Comment