#DearDifaa
Saat duduk santai bersama, melepas lelah, teman kerja saya yang usianya jauh dari saya membuka obrolan.
"Orang tua masih komplit?".
"Tinggal Ibu". Jawab saya
"Orang tua saya sudah tidak ada semua".
Dia bercerita, bagaimana dulu saat kecil hidup begitu bahagia, kedua orang tua masih ada semua. Kini sudah tidak ada.
.
.
Dulu, semua tetangga kanan kiri rumah masih ada, Uwak (budhe-pakdhe) masih komplit. Kini satupun sudah tak ada. Hidup seolah begitu cepat. Dia berkisah, Bapaknya meninggal ketika usianya 17 tahun. 0-10 tahun dia menyadari perilakunya belum ndolor. 10-17 tahun itulah masa dimana dia mengenal Bapaknya. Fase dimana dia ikut membantu pekerjaan-pekerjaan di sawah. Jadi, dia belajar mengenal bapaknya dalam kurun waktu 7 tahun. Waktu yang begitu cepat untuk dilalui.
.
.
Kini jumlah anaknya 3. Dia bercerita. Saat dia berkendara, dia selalu berdoa sepanjang jalan. Agar selalu dilimpahi keselamatan.
.
.
Akhir-akhir ini, WAG (WA Gropup) team kerja kami selalu ada saja yang membagikan berita duka. Setidaknya seminggu sekali. Rentetan nestapa itu selalu menghiasi percakapan kami. Maka, ketika teman saya tadi mengajak merenung. Sudah siapkah bekal kita. Sedang kualitas ibadah masih seperti itu saja.
.
.
26 Desember 15 tahun yang lalu, ribuan nyawa melayang di Aceh. Kejadian Tsunami itu menegaskan kan bahwa manusia itu tidak punya kekuatan atau kuasa. Digebyur air ajur. Ditiup angin kawur. Dibakar geseng.
.
.
Sore tadi, setelah kemarin saya berbincang dengan rekan kerja tentang kematian. Dibawah rintik-rintik hujan, saya membuka WhatsApp. Komandan saya membagikan berita salah satu teman saya sudah tiada. Begitu cepatnya. H. Akhmad Salimi Bin Tasori.. Alfatihah...
No comments:
Post a Comment