#DearDifaa
Sejarah itu tidak selalu penuh heroisme dan menyenangkan. Ada juga sejarah yang menceritakan kekelaman. Tapi bukan kekelaman, point dalam catatan ini. Kisah ini mungkin akan ada padanannya nanti di jamanmu. Ini kisahnya: Pernah suatu ketika, saat muktamar organisasi ormas Islam terbesar Indonesia, Nahdhatul Ulama, di Jombang tahun 2015. Dalam pemilihan ketua umumnya penuh intrik dan trik serta kental atmosfir politik.
.
.
Tentu saja, saya tidak bisa bercerita terus terang apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Sejarah terus berulang. Tokohnya saja yang berbeda. Saat itu, Kiai yang saya hormati dan panuti, KH. Mustofa Bisri, yang sering disebut Gus Mus, mengasingkan diri. Beliau pergi dari perhelatan Muktamar yang penuh hingar bingar. Beliau salah satu tokoh sentral, yang ngendikanya menjadi pertimbangan.
.
.
Dalam suatu kesempatan, Cak Nun, sahabatnya Gus Mus, mengomentari, kurang lebih begini: Gus Mus itu orang baik. Allah tidak tega kepada Gus Mus. Beliau diberi Allah meripatnya ditutupi untuk melihat hal-hal yang tidak baik. Terutama dalam Muktamar itu.
.
.
Kita bukan kelas Ulama, bukan pula Brahmana, bukan juga satria. Kita hanya kelas proletar. Kita tidak bisa mengklaim, bahwa kita orang baik. Namun tidak ada salahnya kita mencoba menjadi pribadi baik. Berupaya, berusaha, berproses menjadi orang baik. Sering saya mengingatkan kepada diri saya sendiri. Yang paling berat saat ini bukan rindu, tapi idealisme.
.
.
Pekerjaan kedepan ternyata jauh lebih berat. Tapi pekerjaan dulu juga ada hikam, selain saling mengenal dengan banyak kawan. Saya pernah menjadi guru honorer, gaji 400 ribu, saat kamu masih bayi. Gaji segitu pada jaman itu, cukup untuk mengebul dapur rumah kita. Saya pernah meninggalkanmu yang terlelap, di senin subuh yang dingin. Menembus kabut gunung Slamet. Mengajar di kampus negeri dengan honor pas-pasan untuk transport. Juga pernah menjadi penerjemah abal-abal di sebuah media bahasa Arab, yang honornya tidak seberapa, namun dimanajemen sedemikian rupa oleh Ibumu untuk membelikanmu sepeda roda tiga.
.
.
Saya pernah menjadi aktivis. Teman-teman diluar organisasi, menilai organisasi saya borjuis. Tapi saat mendengarkan lagu film sound track Soe Hok Gie yang dinyanyikan bang Duta, saya merasa sebagai aktivis sosialis. Begitulah kehidupan, penuh kebisingan.
.
.
Jika kata Cak Nun, Allah itu ndak tega kepada Gus Mus untuk memperlihatkan keburukan. Saat ini, saya tidak benar-benar mengerti. Allah sedang dalam rangka apa kepada saya memperlihatkan semua ini. Tahun lalu, saya mengajukan proposal kepada Allah melalui catatan: Proposal kepada Allah. Tahun itu memang belum dikun oleh Allah. Tapi sebagai makhluk, kita senantiasa untuk husnuzon kepada Allah. Barangkali Allah menyiapkan yang lebih istimewa, sesuatu yang lebih besar, juga menantang. Semoga tahun ini diacc. Cukup sudah saya melihat neraka yang seolah tampak surga. Menggiurkan. Namun mematikan.
Kota Tegal, 24 Desember 2019.
No comments:
Post a Comment