#DearDifa
Kisah ini saya dapatkan dari teman MTs (SMP). Dia bekerja di Kedubes Aljazair. Sore itu dia kedatangan tamu. Seorang Alim. Beliau adalah pengasuh sebuah zawiyah [pesantren] di salah satu provinsi di Aljazair yang berjarak sekitar lima jam dari ibukota.
.
.
Kedatangan beliau ke kantornya memang sebuah agenda. Kebetulan pimpinan menyampaikan ingin bertemu beliau dan kebetulan hari itu juga beliau di ibukota sedang mengantarkan keluarganya yang akan pulang liburan ke negara asal.
.
.
Kedatangan beliau ke kantor, selain membicarakan program kerjasama, beliau juga diamanahi untuk mengelola zawiyah oleh abahnya. Tahun 2018 zawiyah beliau telah memberikan beasiswa untuk 53 santri asal Indonesia. dan ditahun 2019 memberikan beasiswa lagi untuk 37 santri Indonesia yang menghafal Alquran di zawiyah beliau. Di kantor itulah mereka berbagi tentang banyak hal.
.
.
Di antara hal yang beliau bagi ke teman saya adalah tentang metode parenting anak. Beliau menceritakan anak salah seorang kawan beliau yang sejak kecil dididik oleh orang tuanya untuk cinta kepada nabi.
.
.
Alkisah, beliau mempunyai kawan yang anaknya setiap diucapkan nama kanjeng nabi Muhammad Saw. selalu memegang dadanya seolah-olah nama Muhammad menghujam di hatinya. Si anak merasakan kerinduan dan kecintaan yang sangat mendalam kepada nabi.
.
.
Ketika hal tersebut ditanyakan kepada temannya yang merupakan ayah dari anak tersebut, apakah sang anak pura-pura atau memang kenyataan demikian. sang ayah menjawab, bahwa hal tersebut adalah benar adanya. Sang ayah mulai cerita. Sejak kecil, sang anak telah dididik untuk cinta kepada Nabi Muhammad Saw. Setiap kali anak tersebut berbuat baik, malam harinya sang ayah akan memberikan parfum ke tangan dan wajahnya ketika dia tidur. Serta memberikan hadiah di samping tempat tidurnya. Saat sang anak terbangun, dia akan mencium aroma wangi dari parfum tersebut dan menemukan hadiah di samping tempat tidurnya. Sang anak bertanya kepada sang ayah, dari mana asal parfum dan hadiah tersebut. Sang ayah menjawab, bahwa semalam Nabi Muhammad datang kepadanya dan memberikan hadiah karena hari itu sang anak telah berbuat baik.
.
.
Suatu hari ketika, sang anak berbuat nakal, malam harinya sang ayah tidak memberikan parfum dan hadiah. Esok paginya sang ayah mengatakan bahwa Nabi Muhammad tidak mungkin datang pada malam itu karena pada siang harinya sang anak berbuat nakal.
.
.
Kegiatan ini terus dilakukan hingga sang anak mulai dewasa dan mampu berpikir. Namun, hal ini telah menjadi pelajaran berharga bagi sang anak untuk membiasakan berbuat baik sejak kecil.
.
.
Ketika sang ayah ditanya, darimana dapat ide untuk melakukan hal tersebut memberikan hadiah secara diam-diam ketika anak tidur jika pada hari itu sang anak berbuat baik dan menisbatkan hal tersebut kepada Nabi Muhammad—
.
.
Sang ayah menjawab, ide tersebut dia dapatkan dari temannya yang beragama Kristen yang anaknya sangat fanatik dengan sosok Baba Noel (Santa Claus) yang suka memberikan hadiah kepada anak-anak yang baik di malam natal.
.
.
Cerita tentang Baba Noel (Santa Claus) dia modifikasi dan dia ganti tokoh Santa dengan sang Nabi.
.
.
Di negara kita, mengucapkan tahniah, selamat natal menjadi perdebatan yang tidak berkesudahan setiap tahunnya. Di Aljazair, teman sang alim mampu mengambil hikmah dari hal yang diperdebatkan sekalipun. Melampaui semua itu. Seribu langkah lebih maju. bukan terlarut dalam perdebatan.
No comments:
Post a Comment